GUNUNG SUMBING, Jawa Tengah


Keterangan Umum
Nama : G. Sumbing
Nama Kawah : Kawah Sumbing
Lokasi : Koordinat/ Geografi : 07° 32' LS dan 110° 03'30" BT . Secara administratif termasuk :Kab. Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Kab. Purworejo.
Ketinggian : 3371m. dpl
Kota Terdekat : Magelang di tenggara, Temanggung di tumurlaut, Parkan di utara dan Wonosobo di barat.
Tipe Gunungapi : Gunungapi strato tipe B
Pos Pengamatan : Desa Gentingsari, Parakan-Temanggung pada ketinggian 950 m dpl
PendahuluanUntuk mencapai puncak Gunung Sumbing dapat dilakukan dari:
*
Arah baratlaut dari Kampung Garung (1543 m dpl) Desa Butuh, Kecamatan Kalijajar, Kabupaten Wonosobo.
*
Arah timurlaut dari Kampung Butuh atau Selogowok, Kabupaten Temanggung.
*
Arah tenggara dari Kalegan, Kabupaten Magelang
*
Arah baratdaya yaitu dari Sapurun, Kabupaten Wonosobo.
*
Pendakian ke puncak menempuh waktu selama 5 jam bila cuaca baik.
DemografiTanah sekitar G. Sumbing sangat subur, sehingga hampir seluruh daerah yang landai sampai ketinggian lk. 2000 m dpl dijadikan daerah perkebunan rakyat seperti tembakau dan sayur – sayuran. Karena itu penduduk yang bermukim disekitar Gunung Sumbing cukup padat. Data tahun 1993 memperlihatkan bahwa penduduk yang bermukim di daerah bahaya dan waspada jumlahnya mencapai 114.179 jiwa
Inventarisasi Sumberdaya GunungapiSampai saat ini belum ada data inventarisasi sumberdaya G. Sumbing secara rinci.
Wisata GunungapiWalaupun G. Sumbing belum dikenal orang sebagai objek wisata gunungapi, tetapi letaknya yang berdekatan dengan G. Dieng kiranya dapat dipromosikan dengan menarik sebagian wisata yang berkunjung ke Dieng untuk melakukan pendakian puncak G. Sumbing dan pemandangannya tidak kalah dengan gunungapi lainnya. Dapat pula dipromosikan agrowisata seperti yang sudah dilakukan di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat.
RUTE GARUNG
Sebenarnya jalur yang Anda tempuh untuk mencapai ke gunung ini sama dengan perjalanan menuju Gunung Sundoro. Dari Purwokerto naik bus besar jurusan Semarang, melewati Wonosobo, begitu juga sebaliknya. Kalau ke Gunung Sundoro Anda turun di desa Kledung, maka untuk mencapai Gunung Sumbing Anda harus turun di depan gapura desa Garung. Desa ini terletak di jalan menurun arah Wonosobo.
Berjalanlah sekitar 500 meter atau dapat juga naik ojek menuju ke Base Camp. Tidak lama, paling 15 menit berjalanan kaki. Di desa Garung/Butuh ini tidak ada losmen untuk bermalam. Namun, Anda bisa bermalam di rumah kepala desa, sekaligus mendapatkan informasi mengenai Gunung Sumbing. Alamat lengkap Base Camp Garung: STICK PALA ( Satuan Induk Bocah Bocah Karang Taruna Pecinta Alam ). Desa Butuh, Dusun Garung, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak sekitar 8 jam dengan menempuh jarak 7 km. Mulai dari Base Camp Anda sudah menemui lajur yang menanjak. Setelah tanjakan pertama Anda akan melewati kebun sayur, tetapi jalannya tetap menanjak.
alur lama udah jarang dipake karena terlalu terjal buat pendakian dan relatif kurang aman. KM IV dimulai dari Bosweisen (batas ladang dan hutan) Kondisi jalan tanah liat dan tanah merah berpasir, di kanan kiri jalur rerumputan dan pepohonan kecil. Perjalanan akan semakin menanjak melewati dua buah bukit yakni bukit Genus dan Sedlupak. Jalan berupa tanah merah berpasir. Kalau lagi beruntung, saat kita masuk hutan, kita bisa ketemu ama setan belanda yg konon badannya tinggi dan bentuknya sangat seram.
Jalur Baru Setelah melewati ladang pertanian sampailah di perbatasan hutan di kawasan Bosweisen (batas ladang dan hutan) yang merupakan batas KM III. Kondisi jalan berupa tanah liat dan tanah merah berpasir. Di sepanjang kawasan ini terdapat beberapa jenis burung dan ayam hutan.
Kemudian melewati hutan pinus, kalau beruntung, apabila naik malam hari kita bakalan ditemenin ama orang yang seusia dan berjenis kelamin sama dengan pakean putih. Kita bakal ditemenin kalau terpisah dari kelompok dan bakal ditemenin sampai gabung lagi sama kelompok. Tapi sayangnya, saat kita ajak ngobrol, dia tidak akan menjawab dan selalu diam.
Setelah menyeberangi sungai di Kedung terdapat Pos peristirahatan Pos I. Perjalanan selanjutnya kita akan sampai di Pos II (Gatakan) pada ketinggian 2.240 mdpl. Di pos ini pendaki dapat mendirikan tenda, dibandingkan tempat lain, tempat ini cukup terlindung dari hempasan angin kencang, disamping itu pendaki dapat mengambil air bersih dari sungai yang tidak terlalu jauh. Tempat ini terkenal keangkerannya, pendaki yang berkemah disini sering mendapat gangguan Sundel Bolong.
Di Pestan (Peken Setan/Pasar Setan) pada ketinggian 2.437 mdpl, terdapat tempat terbuka yang cukup luas, pendaki dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Konon pendaki akan mencium bau semerbak bunga, bila bau bunga ini mengikuti dia, maka ada sosok mahkluk halus yang membuntutinya. Di sini jalur lama dan jalur baru bertemu. Kawasan ini tidak ada pohonnya berupa padang rumput dengan sedikit pohon kecil, sehingga angin kencang sering menerpa tenda. Selain itu pendaki harus waspada karena sering ada badai yang cukup besar dan berbahaya. Kondisi jalan berupa tanah merah berpasir.
Selanjutnya kita sampai di Pasar Watu dimana banyak terdapat batu berserakan. Di depannya dinding batu berdiri. Jalur disini kelihatannya rawan soalnya bener-bener terbuka dengan kanan dan kiri jurang. Pendaki harus mengambil jalan kekiri sedikit menurun mengelilingi dinding batu terjal. Jangan mengambil jalan lurus dengan cara memanjat dinding terjal ini karena jalur ini buntu.
Dengan cara menelusuri sisi-sisi batuan terjal, Kemudian kita akan tiba di Watu Kotak (2.763mdpl) sebuah batu yang besar seperti kotak yang memiliki ceruk, dapat digunakan untuk berlindung dari tiupan angin dan hujan. Di tempat ini ada sedikit ruang untuk mendirikan tenda kecil. Di sini pendaki dilarang buang air di sembarang tempat, karena tempat ini adalah salah satu tempat yang keramat.
Selanjutnya kita akan melewati Tanah Putih, yang berupa batuan kapur. Jalur sangat berat, terjal dan berbatu-batu, sebaiknya berhati-hati karena batu-batu mudah jatuh menggelinding ke bawah baru kemudian sampai di puncak. Untuk menuju kawah ambil arah sebelah kanan sedangkan untuk menuju puncak lurus ke atas. Di puncak gunung terdapat musang gunung yang hidup di lubang-lubang batu di dinding kawah. Musang ini dengan berani mendekati pendaki untuk mencari sisa-sisa makanan.
RUTE CEPIT
Dari Yogya naik bus ke Magelang, disambung ke Temanggung, turun di Parakan. Perjalanan di mulai di Base Camp Cepit yang terletak di desa Pager Gunung, kec. Bulu, wilayah Temanggung, Jawa Tengah. Perjalanan terbaik dilakukan pada malam hari sekitar pukul 21.00, sampai di puncak menjelang pagi, sehingga sempat melihat Sunrise dari puncak gunung. Selain itu perjalanan di malam hari dapat menghemat air minum, karena di sepanjang jalur tidak terdapat mata air.
Pertama kali kita akan berjalan selama kurang lebih satu jam melewati kebun sayur penduduk. Kemudian kita akan mendaki sekitar dua jam memasuki kawasan hutan, selanjutnya kita akan sampai di padang rumput. Setelah itu kita akan bertemu dengan Batu Kasur dan Batu Lawang.
Jalur menuju puncak sangat sempit dan menanjak, sehingga sangat melelahkan, kita perlu sangat berhati-hati dan menjaga stamina tubuh. Puncak Gungung Sumbing berbentuk kaldera kecil yang bergaris tengah 800 meter, dengan kedalaman 50-100 m dan beberapa puncak yang runcing. Untuk menuju puncak tertinggi harus turun lagi ke arah kanan dan kemudian naik lagi.
Terdapat lautan pasir, terdapat juga makam leluhur masyarakat setempat yang dikenal dengan sebutan Ki Ageng Makukuhan. Ada beberapa gua salah satunya dikenal dengan nama Gua Jugil yang merupakan gua terbesar. Di kaldera banyak kawah kecil yang berasap belerang. Pemandangannya sangat indah sehingga kita akan merasa enggan untuk meninggalkan puncak tersebut.
JALUR BOWONGSO
Baru-baru ini, sebuah jalur baru pendakian di resmikan di gunung berketinggian 3371mdpl tersebut. Jalur Bowongso. masih di kabupaten Wonosobo juga. Namun kita akan menempuh jalur berbeda dari pendakian via dusun Garung yang memang lazim dilakukan pendaki.
” Jalur ini relatif lebih cepat sampai ke puncak. hanya memakan sekitar 6 jam, dengan medan yang relatif lebih mudah dan landai. Berkontur lebih berbatu dan tidak licin. Hutan nya pun masih terjaga cukup baik. Berbeda dengan jalur Garung,” demikian tutur Paul salah seorang panitia dalam acara SML atau Sumbing Mount Launch, yang merupakan pendakian masal peresmian jalur baru Bowongso. SML sendiri di ikuti oleh lebih dari 250 peserta.
Di jalur ini, terbagi dalam empat pos pendakian. Masing-masing pos berjarak antara 1 sampai 3 jam. Sayangnya, saya tidak dapat mengkonfirmasi masalah ketersediaan sumber air di lintasan pendakian.
Pendakian jalur Bowongso mengambil rute transportasi sebagai berikut. Dari terminal Wonosobo kita akan naik angkutan tiga perempat menuju pasar Kertek. Dari sini, kita akan diantar oleh colt yang memang disediakan oleh para pemuda disana yang siap mengantar kita ke desa Bowongso tempat base camp pendakian terletak.[img][/img]